Thursday,24 September 2026
PERNYATAAN SIKAP & ADVOKASI JPIC SVD PROVINSI TIMOR

JPIC Harus Bercermin ke Dalam: Keadilan Tidak Boleh Berhenti di Pintu Biara

Boni Antolan 23 September 2026 13:56 26 dibaca
JPIC Harus Bercermin ke Dalam: Keadilan Tidak Boleh Berhenti di Pintu Biara

DILI —

​Perjuangan keadilan tidak boleh berhenti pada persoalan masyarakat di luar komunitas.

​Sebelum berbicara tentang ketidakadilan, intimidasi, kemiskinan, konflik, dan berbagai persoalan kemanusiaan, komunitas religius juga perlu berani melihat ke dalam: apakah keadilan sudah sungguh-sungguh hidup di antara mereka sendiri?

​Pertanyaan kritis itulah yang menjadi salah satu tekanan utama dalam renungan jiwa P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, yang merefleksikan bacaan Kitab Amsal 21:1-6, 10-13 dan Injil Lukas 8:19-21.

​Mengambil tema besar tentang hubungan antara iman, keadilan dan kehidupan komunitas, P. Domi menegaskan bahwa ibadah dan aktivitas keagamaan tidak dapat dipisahkan dari keberanian untuk melakukan keadilan.

​"Melakukan kebaikan dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban." Pesan dari Kitab Amsal itu ditempatkan sebagai cermin bagi kehidupan orang beriman.

​Menurut refleksi tersebut, seseorang dapat menjalankan berbagai praktik keagamaan, tetapi semuanya kehilangan makna apabila kehidupan sehari-hari justru dipenuhi ketidakadilan, sikap curang, penindasan, atau ketidakpedulian terhadap jeritan mereka yang lemah.

​Dalam perspektif JPIC, pesan itu menjadi semakin tajam.

​Keadilan tidak boleh hanya menjadi suara yang diteriakkan kepada dunia luar, sementara ketidakadilan dibiarkan tumbuh di dalam komunitas sendiri.

​P. Domi mengingatkan bahwa persoalan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk kehidupan komunitas: pembagian kerja yang tidak adil, akses informasi yang tidak seimbang, penilaian yang dipengaruhi suka dan tidak suka, hingga perbedaan perlakuan berdasarkan jabatan, senioritas atau kekuasaan.

​Ada suara yang mudah didengar karena memiliki posisi dan pengaruh. Sebaliknya, ada pula suara yang nyaris tidak terdengar karena berasal dari mereka yang memiliki sedikit kuasa untuk menyampaikan keberatan.

​Dalam konteks itu, pertanyaan tentang "orang miskin" dalam Kitab Amsal tidak hanya dapat dibaca dalam pengertian ekonomi.

​Kemiskinan juga dapat hadir dalam bentuk kemiskinan suara, kemiskinan kuasa, dan ketidakberdayaan untuk menyampaikan jeritan kepada mereka yang memiliki kewenangan.

​Karena itu, refleksi tersebut mengajak JPIC untuk tidak hanya menjadi suara bagi mereka yang tertindas di luar komunitas, tetapi juga berani melakukan koreksi persaudaraan atau fraternal correction ketika menemukan persoalan keadilan di dalam kehidupan bersama.

​Keluarga Yesus Dibangun oleh Ketaatan

​Pesan itu kemudian dipertemukan dengan Injil Lukas 8:19-21.

​Ketika Yesus diberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berada di luar dan ingin bertemu dengan-Nya, Yesus menjawab:

​"Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya."

​Bagi P. Domi, perkataan Yesus tersebut menempatkan ketaatan pada Sabda Allah sebagai dasar persaudaraan.

​Dengan demikian, identitas religius, jabatan, status, senioritas maupun ikatan kelompok tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang sebagai keluarga Yesus.

​Yang menentukan adalah kesediaan untuk mendengarkan Sabda dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata.

​Dalam perspektif JPIC, pelaksanaan Sabda itu antara lain diwujudkan melalui keberanian memperjuangkan keadilan, termasuk keadilan di dalam komunitas sendiri.

​Sebab, sulit membangun kesaksian tentang perdamaian di tengah masyarakat apabila kehidupan internal justru menyimpan luka yang tidak pernah diselesaikan.

​"Adil Dulu di Dalam, Baru Bicara Damai di Luar"

​Dari sinilah muncul pesan paling tajam dalam refleksi tersebut:

​"Adil dulu dalam rumah—biara—komunitas, baru damai bisa terpancar keluar." Prinsip ini menjadi semacam cermin bagi karya JPIC.

​Perjuangan terhadap ketidakadilan di luar tidak boleh dipisahkan dari keberanian mengoreksi kehidupan internal.

​Advokasi mengenai hak-hak masyarakat, buruh, kelompok minoritas, korban bencana maupun berbagai persoalan kemanusiaan harus memiliki akar yang sama dengan kehidupan komunitas: penghormatan terhadap martabat manusia dan keadilan.

​Dengan kata lain, JPIC tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk berbicara kepada dunia.

​JPIC juga membutuhkan keberanian untuk mendengarkan suara yang paling dekat, termasuk suara yang selama ini mungkin tidak terdengar di dalam rumah sendiri.

​Pertanyaan reflektifnya menjadi sederhana tetapi mendalam: beranikah komunitas mendengarkan saudara yang selama ini jeritannya tidak mendapatkan ruang? Beranikah menolak privilege yang tidak adil? Beranikah melakukan koreksi ketika kekuasaan digunakan secara tidak semestinya?

​Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pertama-tama diarahkan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri dan komunitas.

​Sebab, keadilan yang hanya diperjuangkan di luar tanpa keberanian melakukan koreksi ke dalam berisiko kehilangan daya kesaksiannya.

​JPIC sebagai Cermin, Bukan Sekadar Pengeras Suara

​Pada akhirnya, renungan P. Domi mengajak JPIC untuk melihat kembali hakikat panggilannya.

​JPIC bukan sekadar pengeras suara bagi mereka yang tertindas. JPIC juga harus menjadi cermin yang memantulkan keadaan komunitas sendiri.

​Keadilan yang diperjuangkan di luar harus berakar pada keadilan yang dihidupi di dalam.

​Perdamaian yang diwartakan kepada masyarakat harus bertumbuh dari relasi yang menghargai martabat setiap anggota komunitas.

​Dan persaudaraan tidak boleh dibangun hanya berdasarkan kesamaan identitas, tetapi melalui kesediaan bersama untuk mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya.

​Pesan penutup refleksi itu pun menjadi tegas: keadilan kecil yang sungguh-sungguh dihidupi dalam komunitas dapat memiliki makna lebih dalam daripada pembicaraan besar tentang JPIC yang tidak menyentuh kehidupan nyata.

​Karena itu, pertobatan JPIC tidak selalu harus dimulai dari jalan yang jauh. Kadang-kadang, ia harus dimulai dari pintu rumah sendiri.

​P. Domi K. Dheo, SVD

JPIC SVD Timor

Dili, 22 September 2026

Berita PERNYATAAN SIKAP & ADVOKASI JPIC SVD PROVINSI TIMOR Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp